OTOMOTIF

Tiga Faktor Pemicu Melemahnya Rupiah

Namun, pelemahan rupiah wajar dan bergerak sesuai fundamental ekonomi.
Kamis, 18 Juli 2013
Oleh : Arinto Tri Wibowo, Nina Rahayu
Teller menghitung uang dolar AS di salah satu bank.
VIVAnews - Nilai tukar rupiah tengah menuju titik keseimbangan atau ekuilibrium baru. Selama tiga hari berturut-turut, rupiah terus menembus Rp10.000 per dolar AS.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia, Rabu 17 Juli 2013, rupiah di level Rp10.040 per dolar. Nilai tukar kembali melemah jika dibandingkan hari sebelumnya di posisi Rp10.036 per dolar.

Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti, di Jakarta, Rabu malam, 17 Juli 2013 mengungkapkan, saat ini pergerakan rupiah sudah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. "Tapi, saya tidak menyebutkan berapa angkanya," ujarnya.

Menurut Destry, ada tiga faktor yang menyebabkan tekanan rupiah semakin besar. Pertama, tingginya permintaan dolar untuk kebutuhan impor, dan kedua   pembayaran utang swasta. Ketiga, adanya kebutuhan income repatriation, atau proses mengembalikan keuntungan dari dana asing yang ditempatkan di suatu negara ke negara asalnya.

"Permintaan dolar semakin tinggi, terutama impor, dalam satu bulan itu sekitar US$14 miliar," ujarnya.

Selain faktor dalam negeri, Destry menjelaskan, ketidakseimbangan kondisi global juga menyebabkan depresiasi rupiah semakin dalam. Apalagi ditambah dengan rencana pengurangan pelonggaran kuantitatif (quantitave easing) yang akan dilakukan oleh bank sentral Amerika.

"Kondisi global tidak bisa diharap banyak, sebab sekarang ini suplai dolar terbatas, demand ada," tegasnya.

Untuk itu, Destry menyarankan agar perbankan Indonesia lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit dalam bentuk dolar. "Karena ada ekses demand dan ini menimbulkan tekanan rupiah," ungkapnya.

Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sakidin, meminta agar masyarakat tidak terlalu mengkhawatirkan nilai tukar yang semakin melemah.

"Rupiah tembus Rp10.000 biasa saja. Tahun 2008, rupiah kita lebih dari Rp10.000. Kita harus membantu market agar kembali tenang," jelasnya.
TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found