OTOMOTIF

Anak-Anak Seleb Bergelimang Kemewahan

Mereka jamak liburan ke luar negeri dan berkendaraan mobil mewah.
Rabu, 25 Juli 2012
Oleh : Lutfi Dwi Puji Astuti, Stella Maris
Cinta Kuya

VIVAlife - Menjadi anak orang terkenal dengan kehidupan penuh dengan kemewahan, tentu menjadi hal yang sangat menyenangkan. Bisa tinggal di rumah dengan berbagai fasilitas mewah, pergi keliling dunia, dan apapun yang diminta tinggal tunjuk sini tunjuk sana. Semua pasti langsung berada dalam genggaman.

Anak Punya Daya Juang Rendah

Namun, meski kehidupan mewah bisa membahagiakan si kecil, adakah dampak psikologisnya untuk perkembangan anak? Salah seorang psikolog, Efnie Indrianie, angkat bicara.

Menurutnya, anak yang hidup dengan penuh kemewahan sejak usia dini, tentu bisa berdampak pada psikologisnya saat dewasa. Artinya, hal itu bisa berdampak negatif, membuat anak memiliki daya juang yang lebih rendah.

"Anak akan berpikir bahwa dia akan mudah untuk mendapatkan segala sesuatunya. Hal ini kemudian membuatnya tidak dapat berjuang dalam meraih impian dan cita-citanya, karena semua sudah didasarkan pada materi," kata Efnie yang juga Kepala Bidang Kajian Psikologi Perkembangan, Fakultas Psikologi, Universitas Maranatha Bandung.

Ia menyarankan, orangtua untuk tidak memanjakan anak-anaknya dengan segala macam fasilitas dan barang mewah. Kasat mata terlihat adalah Cinta Kuya, putri dari Uya Kuya. Atau, Al, El, dan Doel, buah hati pasangan Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Serta putri pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea, Felicia Putri Parisienne Hutapea. Sejak usia dini mereka sudah dimanjakan dengan beragam fasilitas mewah.

 

Belum lama ini, Cinta, adik, ayah, dan ibunya pergi berlibur ke Las Vegas, Amerika Serikat. Mereka, menghabiskan waktu tiga pekan lebih di Negeri Paman Sam. Ini bukan kali pertama, Uya mengajak serta keluarganya berlibur ke AS. Tahun lalu, pria bernama asli Surya Utama dan keluarga juga menghabiskan liburan di sana.

Tidak hanya liburan ke luar negeri, Cinta pun pernah mendapat kado super mahal, mobil Mini Cooper berwarna putih dari ayahnya yang ditaksir seharga Rp800 juta. Menurut Astrid, sang ibu, saat diantar dengan mobil itu, Cinta semakin semangat belajar ke sekolah.

Efnie menyatakan, daripada anak dimanjakan dengan segala kemewahan sejak dini, akan lebih baik, jika mereka diajarkan lebih dini soal kemandirian atau autonomy.

 

Katanya, cara orangtua mengajarkan anak soal kemandirian ada tiga cara. Pertama, emotional autonomy. Dalam emotional autonomy, akan diajarkan bahwa dalam diri setiap orang memiliki keyakinan terhadap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu secara mandiri, tidak bergantung kepada orang lain terutama orang tua.

Yang kedua, behavioral autonomy. Disini anak diajarkan tentang perilaku dan apapun yang dilakukan atau dikerjakan harus dapat bertanggung jawab.

"Cara yang terakhir, value autonomy. Anak diajarkan untuk menginterprestasikan nilai-nilai moral, misalnya dalam pergaulan, adanya sesuatu yang bertenggangan," jelasnya.

Saat ulang tahun, atau saat-saat kelulusan biasanya menjadi momen paling pas bagi orangtua memberikan hadiah sebagai kejutan istimewa untuk buah hatinya. Setelah lulus ujian nasional tingkat SMP, putra sulung Ahmad Dhani, Ahmad Ghazali atau yang akrab disapa Al, meminta hadiah sebuah mobil BMW terbaru kepada sang ayah. Dia pun mendapatkan kado yang dimintanya. 

Tak hanya putra Ahmad Dhani, putri pengacara kondang Hotman Paris, Felicia, juga dihadiahi mobil merek Bentley saat ulang tahun ke-17. Mobil mewah seri terbaru dengan kapasitas mesin 6.500 cc itu berharga fantastis, Rp9 miliar! 

Efnie berpendapat, jika hidup mewah sudah mulai ditanamkan pada anak sejak usianya masih kecil, akan sangat berpengaruh, terutama pada emotional autonomy-nya. "Anak tersebut ketika dewasa nanti memiliki daya juang yang rendah. Mereka juga memiliki sistem keyakinan yang memandang bahwa segala sesuatunya dibentuk secara materi".

Tunggu Hingga Usia Anak 21 Tahun

Usia ideal seorang anak bisa merasakan kemewahan adalah saat ia mulai beranjak dewasa, yakni di usia 21 tahun. Di usia ini, anak sudah sampai pada taraf kedewasaan. Pola pikir mereka sudah terbentuk dengan matang. "Kalau untuk anak di bawah usia 21, akan lebih baik, orangtua mengarahkan anak pada nilai-nilai kemanusiaan, agar membentuk kepribadian yang lebih baik," terang Efnie. 

Namun, jika si kecil sudah terlanjur merasakan nikmatnya dimanja dengan kemewahan, Efnie juga memberi solusi untuk para orangtua, agar tidak merusak psikologis anak.

"Orang tua harus menaganinya dengan cara social competition therapy. Misalnya dengan membawa anak-anak ke tempat-tempat sosial seperti panti jompo, rumah yatim piatu. Atau, tempat yang dapat memberikan pandangan, bahwa di tempat itu atau di luar sana ada orang yang hidupnya tidak begitu beruntung," urai Efnie. 

Langkah yang lebih baik lagi, katanya, dengan membawa mereka  rutin ke tempat itu, tiga kali dalam seminggu. Hal ini, akan membuat anak menjadi lebih melihat arti hidup dari perspektif yang berbeda.

Sebagai orangtua, Astrid dan Maia Estianty mengakui bahwa meski sejak kecil buah hati mereka sudah tercekoki kemewahan hidup, mereka tetap mengajarkan cara hidup mandiri pada anak-anaknya. 

Maia pun mencontohkan, saat putra keduanya, El, minta dibelikan mobil seperti kakaknya, sebagai hadiah ulang tahun ke-13, Maia memilih tidak memenuhinya. Maia malah membelikan El sebuah smartphone.

"Dia pingin dibeliin mobil, karena melihat kakaknya dibeliin, tapi aku bilang nanti kalau sudah umurnya pas. Sekarang masih 13 tahun nyupir belum waktunya," ujar Maia.

Sementara Astrid juga mengajarkan kemandirian pada Cinta. Meski terkadang berbenturan dengan sang suami, Uya, yang lebih senang jor-joran memberikan fasilitas mewah untuk anaknya.

"Kalau saya, lebih suka mendidik anak soal tanggung jawab. Misalnya, dari hasil penghasilannya, saya suka kasih hadiah untuk dia, cuma hadiah biasa saja," katanya.

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found