OTOMOTIF

China Blokir Lagi Pembelian Pesawat Airbus

Ini adalah reaksi China atas pembatasan dan pungutan pajak emisi karbon Uni Eropa
Jum'at, 16 Maret 2012
Oleh : Renne R.A Kawilarang
Pesawat Airbus A380 Super Jumbo

VIVAnews - China telah memutuskan tunda pembelian sepuluh unit lagi pesawat baru Airbus buatan Eropa. Keputusan ini menambah ketegangan antara China dengan Uni Eropa soal pembatasan dan pungutan pajak emisi karbon, yang baru-baru ini diperkenalkan UE.

Menurut kantor berita Reuters, keputusan itu diungkapkan dua sumber anonim di Eropa pada Kamis waktu setempat. Langkah Beijing menangguhkan pembelian sepuluh unit pesawat A330 itu muncul saat Skema Perdagangan Emisi yang diterapkan UE awal tahun ini mengundang kegusaran sejumlah negara, termasuk China, India, dan AS.

Menurut stasiun berita BBC, aturan itu bertujuan untuk mengurangi emisi gas karbondioksida (CO2), yang populer disebut gas rumah kaca.

Maskapai yang beroperasi di wilayah udara Uni Eropa diharuskan mengikuti standar emisi itu, bila tidak akan dikenakan denda 100 euro bagi setiap ton emisi gas CO2 dari pesawatnya yang melebihi batas atau hukuman terberatnya adalah dilarang beroperasi di Eropa.

Aturan itu sudah diberlakukan sejak 1 Januari 2012 bagi semua pesawat komersial yang menggunakan bandara di negara anggota UE. 

Sejumlah maskapai internasional dari negara-negara non-UE, yang turut beroperasi di Eropa, mengingatkan bahwa kebijakan baru itu bisa menambah beban bagi konsumen dan pada akhirnya mengganggu industri jasa penerbangan internasional.

China pun dalam beberapa pekan terakhir sudah bereaksi keras atas kebijakan baru UE. Beijing sudah meminta maskapai China untuk tidak mematuhi peraturan pembatasan karbon. Awal pekan ini, Airbus sudah mengungkapkan bahwa China memblokir pembelian 35 unit A330 dan 10 A380 Superjumbo dengan total kontrak US$12 miliar.

Airbus tidak menyebut maskapai mana yang menangguhkan pembelian. Namun, sumber-sumber industri mengungkapkan bahwa Airbus sudah menyiapkan A380 untuk armada Hong Kong Airlines. Sebanyak 46 persen saham maskapai itu dimiliki HNA Group, yang merupakan perusahaan induk Hainan Airlines asal China.

Kebijakan China ini mengundang keresahan di kalangan Airbus. "Menjual pesawat itu sangat berbeda dengan menjual arak anggur atau mobil. Kita tidak bisa langsung memulihkan lagi penjualan secara cepat," kata Rainer Ohler, Kepala Divisi Hubungan Massa dan Komunikasi Airbus. 

"Pemblokiran atas penjualan pesawat bisa menghancurkan upaya penjualan selama bertahun-tahun dan butuh beberapa tahun pula untuk memulihkannya," lanjut Ohler.

Masalah ini justru menjadi peluang bagus bagi Boeing, yang merupakan rival berat Airbus di pasar pesawat terbang komersil. Boeing mengaku optimistis bisa meraup pendapatan miliaran dolar dari penjualan terbaru pesawat 777 Mini Jumbo, yang cukup laku di China.

"Kami sudah menjual 30 unit 777 pekan lalu dan sudah terlibat pembicaraan dengan klien lain untuk penjualan lebih lanjut," kata James Albaugh, Kepala Eksekutif Divisi Komersil Boeing. (umi)

TERKAIT